Sunday, October 5, 2008

Anda dalam Menulis

Anda akan didefinisikan oleh apa yang secara berulangkali Anda lakuan. Oleh karena itu, kesuksesan bukanlah sebuah aksi melainkan kebiasaan (Aristotle)

Kata-kata bijak di atas telah memberikan suatu kepastian bagi saya bahwa kesuseksan itu dicapai dengan latihan yang terus menerus. Hal ini saya aku sepenuhnya karena ada beberapa hal yang telah saya peroleh dengan kebiasaan ini. Pertama, saya menguasai kemampuan mengetik sepuluh jari dengan standar kecepatan level B tingkat internasional. Kemampuan mengetik tanpa melihat ini saya peroleh karena saya rajin mengetik setiap hari. Saya tidak pernah merasa bosan untuk terus berlatih berlatih, dan berlatih lagi. Sehingganya mengetik itu bukanlah suatu hal yang aneh bagi saya tetapi itu merupakan suatu keasyikan tersendiri bagi saya selama mengetik. Sekarang dengan kemampuan mengetik itu saya akan berusaha pula untuk menaklukkan kemampuan menulis.

Saya sadar sekali bahwa menulis adalah suatu keterampilan. Dan yang namanya keterampilan hanya dapat dimiliki bila dilakukan secara terus menerus. Itu artinya menulis itu harus saya biasakan setiap hari. Tetapi berdasarkan data-data kebiasaan saya menulis, ternyata saya tidak beraksi untuk menulis setiap hari. Ini artinya bahwa yang lemah bagi saya adalah disiplin pribadi atau rasa ingin tunggu dan menjanjikan pada diri saya sendiri untuk mengatakan, ‘nanti ajalah menulis itu. Jadi apa yang akan saya lakukan untuk latihan menulis ini? Saya pikir saya sudah melakukan proses ke arah sana. Saya telah mencoba untuk melatih diri untuk menjadi seorang penulis kreatif. Ya, seorang penulis yang menghasilkan pola pikiran kreatif yang selalu membuat orang bertanya-tanya.

Maka dalam kesempatan ini, saya akan menuliskan suatu hal yang menurut saya memang kreatif adanya. Misalnya menulis tentang majalah. Atau menulis tentang isi pikiran saya yang akan saya tuliskan untuk majalah atau surat kabar. Tetapi pertanyaan saya, apakah saya sudah waktunya untuk menulis di majalah? Saya pikir ini sudah waktunya.namun dalam menulis tulisan ini saya teringat oleh kata bijak, bahwa saya harus memfokuskan pikiran saya pada tujuan yang sebenarnya. Karena itu, saya akan mempokuskan dulu pada latihan.

Berdasarkan hitungan kalender latihan saya semenjak bulan Februari sampai bulan April ini, terhitung delapan belas kali saya baru latihan. Jumlah ini tentu sangat mengecewakan diri saya sendiri. Kenapa tidak, karena waktu yang terbentangselama tiga bulan ini, hanya dapat saya pergunakan untuk menulis hanya sebanyak delapan belas kali. Jika dengan hitungan matematika, ternyata saya hanya menulis sepersekian dari banyaknya waktu, ya cukup dikatakan dibawah 20% waktu yang saya pikirkan. Kalau begini keadaannya, tentu saya harus periksa diri saya lagi. Apanya yang salah. Ada apa. Bukankah saya punya banyakwaktu untuk menulis. Bukankah saya punya kesempatan untuk menulis setiap hari? Lalu mengapa terjadi begini? Saya pikir bahwa jawabannya adalah saya masih termasuk orang pemalas menulis. Saya masih termasuk orang yang sering mengulur-ulur waktu untuk menulis. Kata-kata hati saya yang selalu menyuruh saya untuk menulis dikalahkan oleh nafsu malas saya dengan kata tunggu-,sebentar lagi, tunggu- sebentar lagi. Hingga akhirnya pikiran untuk menulis itu lupa dan hilang sama sekali dalam pikiran saya waktu itu. Nah, apa daya saya supaya saya bisa mengalahkan misteri ini? Apa daya saya. Apakah saya harus memaksa diri saya untuk  menulis dengan suatu alat? Tindakan ini bisa jadi berhasil selama saya saya mematuhi kata-kata saya itu.

Lalu apa kata-kata yang memaksa saya untuk harus menulis? Saat ini yang terpikir oleh saya adalah bahwa saya harus menuliskan sebuah kata perintah di depan meja belajar saya. Dan saya tempelkan pas di depan monitor saya, dengan tulisan seperti ini: jangan gunakan komputer sebelum berjanji untuk menulis. Atau, dengan kata lain, berjanjilah untuk menulis. Komputer ini hanya boleh dipakai jika dimulai dengan menulis, atau start first wirth writing. Promise.  It’s your responsibility to write. Don’t deny yourself. Writing first! It’s a must! Don’t do other things, before writing. Saya tidak ingin dipegang kalau tidak menulis dulu. Atau menulis, menulis, dan menulis. Atau writing first! Keep your promise. Ini adalah sebuah kata bijak. Atau suatu keharusan bagi saya adalah, don’t touch this, if not write. You can’t do this, but writing first. Writing first! 2 times a day! A must.

Yah, setelah berhenti sejenak, sekitar lima menit, saya telah berhasil menempelkan sebuah tulisan perintah pada diri saya untuk menulis. Perintah itu saya ketik, lalu saya cetak di atas kertas putih. Saya gunting, dan saya tempelkan tulisan itu di sisi layar komputer saya. Agar tidak lupa. Saya tuliskan perintah itu: Writing first! 2 times a day. A must. Never pospone! Never postpone! Never Pospone.

Posted by Armanto in 15:35:43 | Permalink | No Comments »

Tantangan dalam menulis

Tidak salah kalau banyak orang mengatakan bahwa menulis itu banyak tantangannya. Musuh utama yang mengganggu kita dalam menulis adalah diri kita sendiri. Otak kita yang berfungsi sebagai pengontrol sering kali membuat kita terhambat untuk menulis. Otak pengontrol membuat kita merasa terhambat untuk mengembangkan ide-ide cemerlang kita. Kenapa begitu? Karena dia seringkali menyaring apa yang kita tulis. Sehingga dia menilai tulisan itu sendiri. Ini tulisannya atau idenya tidak bagus. Sehingga kita sering mencoret dan mencoret kembali tulisan kita itu. Juga akhirnya itu membuat kita berpikir banyak apa yang
sebaiknya ditulis untuk pembaca saya. Karena memikirkan itu, akhirnya kita lama sekali untuk memulai sebuah tulisan. Kita akhirnya dengan serius memikirkan apa yang akan dibaca oleh pembaca kita nantinya. Karena terlalu lama memikirkan apa yang akan dibaca oleh penulis kita dan pembaca kita akhirnya terjadilah konsentrasi penuh. Akibat kosentrasi yang lama membuat kita menjadi melamun. Itulah sebabnya
menulis terkontrol itu membuat kita sering melamun. Untuk mengajarkan keterampilan menulis untuk anak-anak atau siswa tingkat sekolah menengah atas, kita harus terlebih dahulu memotivasi mereka untuk menulis. Terutama untuk pelajar pemula dalam menulis, kita tidak perlu langsung mengajarkan mereka menulis secara terkontrol. Mengapa demikian karena menulis secara terkontrol itu membutuhkan suatu pemikiran yang serius. Pemikiran yang serius ini akan membawa anak malas berpikir atau membuat mereka susah mengeluarkan kata-kata dalam tulisannya. Ditambah lagi dengan kecenderungan otak pengontrol mereka yang mengontrol diri mereka sendiri. Sehinggga ini mengakibatkan mereka tidak bisa memproduksi kata secepat mungkin. Apa yang dibutuhkan dalam hal ini adalah bagaimana menyuruh siswa itu untuk menulis secepat mungkin apa yang dia peroleh dan apa yang dia pikirkan. Bukankah ini suatu perbuatan yang konyol? Saya pikir ini bukan suatu perbuatan yang konyol tetapi kita sudah harus menghantam atau menghancurkan hal-hal yang menghambat pemikiran mereka dalam menulis. Mengapa orang sering mengalami hambatan dalam menulis? Penyebab utamanya adalah mereka itu sering mengalami masalah dalam membuat atau memproduksi kata-kata. Mereka ingin selalu tampil sempurna atau perfect didepan pembacanya atau untuk dirinya sendiri. Itulah sebanya orang itu tidak mau lagi menulis dengan baik. Benarkah demikian? Yah… itu adalah salah satu penyebabnya orang merasa susah untuk menulis? Jadi mengapa orang mengatakan susah untuk menulis? Yang pertama sekali adalah mereka ingin pertama kali harus tampil sempurna bagi pembacanya dan bagi dirinya sendiri. Memang untuk menulis profesional, seorang penulis itu haruslah memikirkan siapa pembacanya, mengapa itu harus ditulis, bagaimana cara mengembangkan tulisannya, apakah ide ini cocok untuk pembacanya? Akibatnya pemula itu sibuk memikirkan itu saja. Bahkan dalam satu jam otak pengontrolnya sibuk mengatakan dan mengedit bahwa ini idenya salah. Ide ini harus diperbaiki, ide ini harus dirubah kembali. Itulah akibatnya orang-orang mengatakan memang sulit sekali menulis itu. Satu alasan besar dia mengatakan seperti itu adalah karena ia ingin tampil perfect di depanpembacanya dan didepan dirinya sendiri. Oleh karena itu, untuk menciptakan kebiasaan menulis, kita harus mulai dahulu dari sikap sederhana, memulainya dengan sesuatu yang tidak banyak membebani pikiran mereka. Karena itu menulis itu harus dimulai dari keadaan pikiran santai. Menulis pribadi (free writing) merupakan bentuk suatu tulisanpribadi untuk mengekpresikan pikiran. Orang dengan santai dan merasa bebas dapat menuliskan semua pikirannya tanpa takut karena tulisan itu tidak akan dibaca oleh orang lain. Orang itu tidak akan segan-segan menuliskan semua pikiran dan perasaannya pada orang lain. Dengan tulisan pribadi orang tidak perduli dengan struktur kata-kata, bahasa yang dikeluarkan, pilihan kata, jeda, tanda baca, ataupun efek yang ditimbulkan oleh tulisannya itu. Bahasa yang keluar adalah seenak perutnya saja. Itulah yang membuat mereka senang menulis. Di samping itu, tulisan pribadi membuat orang tidak terlalu banyak terbebani oleh berbagai pemikiran dan aturan-aturan tetek bengek dalam menulis. Penulisan jenis ini hanya memfokuskan bagaimana kita menghancurkan dinding-dinding pemisah pikiran pemula agar tetap menjaga menulis dengan kecepatan tertentu. Di sini, jelaslah bahwa tulisan pribadi itu berguna sekali untuk membuat orang lebih cepat ingin menulis. Penulis sebagai pablik penghasil kata-kata. Sebagai penulis pemula, jangan pikirkan terlebih dahulu mutu tulisan kita. Janganlah kita bermimpi bahwa tulisan perdana kita itu bagus dibaca oleh orang lain, layak mendapat penghargaan dari sebuah penerbit, dan mencapai pujian dari seluruh pembaca, dan sempurna rasanya bagi kita sendiri. Jangan, jangan pikirkan itu dulu. Untuk tulisan pribadi, yang lebih utama adalah bagaimana kita menciptakan kata sebanyak mungkin. Cobalah mengeluarkan apa yang kamu pikirkan menjadi lebih bagus. Wah… sekarang pikiran saya bertabrakan dengan ide penulisan makalah saya. Saya ingat dengan apa yang akan saya tulis. Lebih baik saya mengajarkan bagaimana cara mengajarkan writing di SMA berdasarkan kurikulum berbbasis kompetensi. Karena tulisan ini untuk orang banyak, maka saya harus melihat dahulu, bagaimana standar menulis yang baik bagi kurikulum KBK. Menulis bahasa Inggris merupakan suatu pelajaran yang menjadi momok bagi guru dan siswa sebagai pelajar bahasa asing. Penyebabnya banyak sekali. Di antaranya adalah karena siswa memiliki kekurangan kosa kata untuk menulis. Meskipun melihat kamus, kegiatan seperti itu akan menghambat proses menulis mereka. Kedua, sebagai bahasa Asing, mereka harus menguasai pula penggunaan bahasa dasar, seperti structure, dan reading. Seoroang penulis itu harus terlebih dahulu harus menguasai kemampuan struktur bahasa Inggris, kemampuan membaca, kemampuan mendengar, kemampuan pemahaman budaya asing. Bukan itu saja, menulis secara umum dipengaruhi oleh otak pengontrol diri mereka sendiri. Keinginan untuk selalu perfect di hadapan pembaca dan atas penilaian diri sendiri membuat guru dan siswa takut sekali menulis. Di tambah lagi, menulis itu membutuhkan suatu latihan yang berulang-ulang sehinga itu menjadi suatu kebiasaan. Banyak orang yang hanya bisa menciptakan satu kalimat atau hanya beberapa kalimat dalam waktu setengah jam. Banyak pula orang yang mencoret-mencoret kembali tulisan yang telah mereka buat, dan seterusnya merobeknya dan membuangnya ke tempat sampah dengan segudang kejengkalan pada dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan apa yang mereka tulis itu terasa tidak bagus. Mereka ingin langsung tampil bagus dihadapan pembaca, dan ingin tampil bagus dihadapan dirinya. Jika hal ini tidak dirobah, maka akan menyebabkan kita tidak akan bisa menulis. Karena itu untuk memberikan pelajaran menulis bhasa Inggris di tingkat sekolah menengah umum harus diberikan dengan teknik dan metode menulis yang benar. Mata pelajaran yang cocok Karena itu, kita mungkinbelum bisa menyuruh anak kita menulis kalau masih ada dinding pembatas pikirannya yang belum dipecahkan. Bagi mereka mengeluarkan pikiran seperti itu adalah suatu yang sulit sekali. Belajar menulis merupakan suatu pekerjaan yang membosankan dan menakutkan. Itulah setidaknya yang dirasakan oleh kebanyakan penulis, pelajar, guru, siswa. Mulailah menulis, dankemudian ingatkandiri anda bahwa anda hanya sedang mencoba untuk menuliskan kata-kata dan berbagai ide yang muncul ke atas sehelai kertas – Anda tidak mencoba untuk menghasilkan sebuah prosa yang abadi dan berbagai ide yang mencengangkan seluruh dunia dalam percobaan pertama. (orang selalu ingin tampil perfect.. inilah satu penyebab mengapa orang merasa tersandung dalam menulis) Usaha 9% yang santai lebih efisien dibandingkan usaha 100% yangmemaksakandiri. Pada saat Anda mulai membuat tulisan pribadi tentang sebuah subjek yang sensitif, ingatkandiri Anda untuk “tetap santai”. Keseriusan berpikir yang berlama-lama mendatangkan ngaur dan mengantuk. Menulis dengan cepat dan terus menerus akan mengembangkan pemikiran anda dengan membuat Anda lebih santai. Tulislah secepat kemampuan tangan Anda saat Anda menuliskan sebuah catatan kepada teman sekantor Anda, yang berisi:”Aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, harus makan siang di restoran ABC,’ karena rekan-rekan Anda sudah masuk ke dalam mobil dan Anda ingin mendapatkan tempat duduk tepat di sebelah pegawai baru yang keren. Dengan menulis cepat, Anda membuat pikiran Anda beroperasi pada kecepatan melebihi kecepatan pemikiran normal, bukannya lambat dan ogah-ogahan seperti ketika Anda menulis dengan malas. Dengan menulis secara terus menerus, anda memaksa bagian pikiran Anda yang senang mengedit ke dalam posisi subordinasi sehingga bagian pikiran yang terus memproduksi berbagai ide akan terus berpoduksi dengan meluncurkan kata demi kata. Namun bagaimana jika Anda harus berhenti karena Anda sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dikatakan. Tulislah hal-hal yang tidak berarti saat menunggu pikiran Anda akan kembali mengarkan Anda. Saya ulangi lagi- berbagai hal yang ngawur, tidak ada artinya. Tulislah seenaknya di ats kertas, “Aku pergi ke ayam betina dua kali dua telepon drake dreg parala…’ Ulangi kata terakhir yang Anda tuliskan: “Data ini akan menunjukkan menunjukkan menunjukkan menunjukkan… Atau huruf terakhir yang Anda tekan di papan ketik Anda”Keuntungan saya aaaaaaaaaaaaaaaaa…”
Posted by Armanto in 15:31:59 | Permalink | No Comments »

Menulis memang tidak mudah.

Memang tidak mudah melatih diri untuk tetap instant menulis. Kegiatan ini sudah saya coba berulang kali agar saya dapat terbiasa untuk menulis. Tetapi ada-ada saja halangannya sehingga itu menghambat saya untuk menulis. Namun kali ini akan saya coba lagi untuk menuliskan apa saja yang dapat saya ingat. Mudah-mudahan ini dapat pula membuat saya terbiasa lagi untuk menulis. Lalu apakah yang akan saya tulis? Saya pikir ini belum lagi menjadi suatu urutan utama bagi saya yang terpenting bagi saya sekarang adalah saya akan mencoba memproduksi kata sebanyak 10 halaman dalam waktu dua jam. Tetapi apakah ini suatu pekerjaan yang luar biasa atau tidak? Saya pikir semua ini tidak perlu dicemaskan. Sepanjang kita bisa melakukan itu maka kita akan coba untuk melakukannya.

Banyak kata-kata bijak yang pernah saya baca. Semua itu menyuruh saya untuk tetap bertahan dalam mencapai tujuan. Tujuan itu harus dicapai. Begitulah kata kata bijak itu.  Saya tahu betul bahwa yang besar itu berasal dari yang keci. Semua yang jauh itu berasal dari yang dekat. Perjalanan yang kita tempuh selama bermil – mil itu berasal dari selangkah tapak kaki kita. Gunung yang tinggi itu dapat kita capai setelah kita memulainya dari selangkah demi selankgah hingga mencapai tujuan akhir. Yah itu adalahsuatu perjuangan yang harus saya capai. Apalagi dikatakan dalam kata-kata bijak, bahwasanya impian kita itu pada awalnya adalah sebuah mimpi belaka yang rasanya tidak akan mungkin terlaksana, tetapi setelah itu lama kelamaan impian itu terasa mungkin terjadi. Lalu berikutnya terjadi dengan kenyataan. Dan akhirnya sering lagi terjadi. Begitulah kejadiannya. Pertama kali memang semua itu terasa lebih awal sangat sulit dan sulit untuk ditembus. Tetapi setelah dilakukan berulang kali maka pekerjaan itu bagaikan suatu kebutuhan. Dan lama kelamaan kita mencapai hasil yang diinginkan. Berdasarkan dorongan buku bijak itulah saya kembali kepada diri saya bahwa itu memang perlu dipacu untuk menuju cita-cita saya sebagai seoran gpenulis best writer? Tetapi kapankah cita-cita ini akan tercapai. Jawaban saya mungkin secara teori begini, semakin sering saya latihan, tentu semakin cepat saya akan mencapai tujuan saya itu. Itu tidak bisa dipungkiri, maka yang paling penting saya lakukan hari ini adalah menulis, pagi, menulis siang, dan menulis malam. Bolehdikatakan bahwa tiada waktu untuk tidak menulis menulis dimana saja kita merasa itu pantas untukmenulis. Apakah ini dikatakanorang bahwa kita ini gila menulis? Yah, memang seperti itulah tanggapan orang kepada kita. Kita selalu sering menulis dimana saja. Kita tidak memperdulikan dimana saja untuk menulis. Sambil duduk, sambil berjalan,diatas mobil, diatas kereta api, atau dimana kita beristirahat, semua itu dapat kita lakukan sebagai ajang untuk menulis. Lalu berapalama ya seperti ini. Saya jawab bahwa saya tidak tahu sampai kapan tulisan seperti ini akan berakhir. Apakah tahun besok. Apakah dua tahun lagi, atau empat tahun lagi? Saya sendiri sulit untuk menjawabnya. Namun dengan banyak harapan dan keyakinan dari saya bahwa keterampilan menulis ini harus say ataklukkan. Saya harus menaklukkan semua hal yang menghambat pikiran saya untuk menulis. Saya tidak akan segan-segan lagi untuk menuliskan semua hal yang dapat mengganggu pikiran say.

Mac lee adalah orang yang paling kagumi atas karya dan nasihatnya untuk menulis. Nasihatnya memberikan ilham kepada saya bahwa dengan menulis orang bisa menjadi lebih jenius dan pintar. Dnegan menulis kita bisa memvisualisasikan keinginan kita. Kita akan paham bahwa hanya dengan menulislah semua ini bisa akankita buka. Kita akan membuka tabir dunia ini dengan menulis. Apakah itu bisa? Saya yakin kita bisa. Kenapa? Karena otak manusia itu sangatlah bagus. Bahkan kehebatan otak manusia itu lebih canggih dari segala otak makluk hidup yang ada di bumi ini. Apalagi orang banyakmengatakan bahwa manusia menggunakan kemampuan otaknya hanya baru 10 persen. Itupun dipakai oleh orang –orang jenis. Bagaimana kalau sekiranya otak itu digunakan lebih dari epuluh persen. Bukankah itu suatu loncatan yang sangat luar biasa. Kita bisa mengembangkan ide dan imajinasi kita sesuai dengan yang kita inginkan. Kita akan menciptakan sesuatu yangmemang luar biasa untuk kepentingan orang banyak. Tentu kita akan bisa pula menciptakan segala sesuatunya dengan efisien melalui pikiran kita yang kreatif. Kita bisa saja menyulap sebuah sekolahkumuh menjadi sebuah sekolah yang terbersih di suatu tempat. Kita bisa saja menciptkan suatu tempat yang dulunya sangat tidak berguna menjadi tempat yang sangat didambakan oleh orang lain. Semua itu dapat kita ciptakan melalui suatu pemikiran kreatif dan inovatif.

Oleh karena itu tentu ini adalah langkah yang terbaik yang pernah saya lakukan untuk melatih pikiran saya bekerja dengan baik. Dngan menulis ini saya bisa melatih pikiran dan otak saya yang telah lama membekukini tentu dia encer kembali. Dan saya mencoba mengaktifkan neuron atau urat sarah otak saya yang tidak bekerja kita bekerja dengan baik. Tentu pikiran seperti ini terus dan terus berkembang membentuk suatu pikiran kreatif. Marilah saya ocoba untuk menuliskan suatu  yang lebih kreatif lagi. Misalnya bagaimana saya kiranya menyulap semua siswa saya menjadi siswa yang potensial dalam satu bulan, sehingga  mereka bisa lulus pada ujian nasional bulan mei mendatang. Bisakah saya melaksanakannya? Say apikir saya masih punya banyak kesempatan  untuk itu.

Marilah saya coba memikirkan cara untuk meluluskan semua siswa saya dengan pikiran kreatif. Pertama sekali, apakah yang dapat saya lakukan dalam waktu tiga minggu ini? Pertama adalah saya harus mengumpulkan siswa-siswa yang mau belajar keras. Lalu saya temui mereka, mengajak mereka  untuk belajar setiap  hari. Mereka akan saya beri buku-buku ujian agar mereka harusmengerjakannya di rumah. Kemudian, saya akan buat contoh-contohmodel soal bahasa inggris untuk ujianbesok ini. Agar mereka sudah terbiasa dengan bentuk latihan. Olehkarena itu saya harus bekerja keras dari sekarang. Nah, apa lagi yang dapat saya lakukan? Yang lain adalah saya harus melatih semua siswa belajar sore. Saya pokuskan kepada pembahasan soal.saya akan berikan kepada siswa bagaimana menjawab soal yang baik. Sayajuga akan memberikan trik-trik untukmenjawab soaldengan cepat. Saya tentu harus yakin betul bentuk soal yang akan saya berikan kepada siswa. Mengingat kemampuan anak saya yang tidak begitu baik, maka yang terbaik yangsaya lakukan adalah melatih danmelatih mereka agar terbiasa mengerjakan soalitu dengan sebaik-baiknya. Tentu semua itu membutuhkan suatu pemikiran yang baik. Dan untuk mencapai semua itu saya harus menciptakan hal-hal baru untuk membuat mereka lulus bahasa Inggris seratus persen. Apalagi ya? Ya, saya harus rajin datang ke sekolah membantu para siswa. Saya akan katakan kepada mereka bahwa mereka harus terus belajar dan belajar sehingga mereka dapat mengenal bentuksoal dengan baik. Artinya siswa harus mengenal pola ujian dan pola soal dnegan baik, dengan tujuan sekali saja dia melihat bentuk soal, maka dia akan bisa menjawab soal dengan cepat. Lalu bagaimana caranya, maka cara satu-satunya adalah dengan memberikanlatihan ujian terus menerus kepada mereka. Terutama sekali pada latihanlistening, ini membutuhkan suatu latihan yang berulang-ulang, apalagi siswa tidak mengetahui arti itu. Maka untuk listening ini, siswa akan diperkenalkan apa yang akan diperhatikan untuk memahami soal listening dengan baik. Satu jalan adalah siswa harus menangkap kata pertama yang diucapkan oleh pembaca soal. Anak harus memahami pernyataan atau pertanyaan yang dimulai dengan pertanyaan journalistic. Seperti siapa, dimana, kemana, berapa, berapa lama, mengapa,  kapan, bagaimana, yang mana, apa, dan seterusnya. Kemudian, mereka juga harus mengenal pertanyaan yes not question dengan jawaban pendek. Lalu, siswa juga harus mengenal tekanan-tekanan kata yang muncul pada pertanyaan itu. Tekanan suara untuk bertanya, melarang, dan memerintah, harus diperkenalkan kepada siswa. Di samping itu siswa harus diberikan cara melihat soal sebelum mendenganrkan listening tesebut. Khusus untuk soal listening part satu, maka siswa harus mempehatikan terlebih dahulu gambar-gambar setiap nomor dengan cepat. Mereka harus memahami makna dan arti gambar yang ada itu. Perhatikannpula kalau ada kata-kata yang tertulis dalam gambar itu. Kata itu adlah kunci dari percakapan nantinya. Kemudian, periksa pula apa yang ditanyakan oleh para penanya dalam kaset. Kita yakin bila kita memberikan trik yang mapan kepada siswa, maka mereka memiliki pola yang banyak untuk memahami listening tersebut.

Nah bagaimana caranya bila mereka tidak memahami dengan baik apa yang membuat mereka dapat menjawab dengan cepat? Saya pikir siswa harus mempunyai kaset listening pula dirumah. Sehingga mereka bisa memahami soal listening dengan baik .bukankah ini suatu langkah maju. Kalau mereka ini harus punya kaset listening, tentunya semua harus dipotokopikan terlebih dahulu agar mereka bisa belajar di rumah. Saya pikir ini juga salah satu hal yang bagus untuk membuat mereka banyak belajar di rumah. Kemudian saya juga harus menuliskan kata-kata yang muncul atau transkrip percakapan dari kaset itu . dengan tujuan mereka dapat menyesuaikan apa yang diucapkan orang dalam soal itu agar mereka dapat memahami dan mencoba mengerti apa yang diucapkan oleh kaset tersebut. Kemudian mereka juga dbierikan pula kunci jawabannya sehingga siswa itu paham bahwa ini perlu dikenal. Setelah penngetikan soal atau tanskrip listening, apalagi yang dapat saya lakukan? Saya pikir saya akan memberikan reward kepada siswa yangmendapatkan nilai terbaik pada listening. Ini merupakan suatu tanggung jawab yang amat berat yang harus saya pecahkan. Saya harus mencari banyakjalan agar mereka bisa menjawab soal dengan baik. Lalu, apalagi agar mereka bisa menjawab soal dengan baik. Saya akan memfotokopikan soal ini kepada siswa agar mereka memiliki waktu untuk menjawab soal. Saya harus menekankan kepada mereka bahwa bahasa inggris harus dikuasai dengan sebaik mungkin. Belajar dan belajar membaca teori dan buku tatabahasa dengan sering. Mengenal trik-trik yang diberikan dalam buku. Ini adalah suatu langkah yang tepat untuk dilakukan.

Dan langkah berikutnya adalah bahwa saya akan membeli buku toeic untuk melatih siswa memahami jawaban yang ada pada soal soal TOEIC. Bukankah ini merupakan suatu jawaban yang tepat yang harus diketahui oleh siswa. Nah sekarang apakah saya perlu menuliskan pola soal kepada siswa? Saya pikir memang ada perlunya.misalnya bagaimana bentuksoal yang akan diberikan oleh penguji nanti. Saya akan tuliskan bentuk format soal dari tahun yang lalu sampai tahun belakang atau sampai tahun ini. Saya pikir ini ada perlunya agar siswa memahami betul dengan melihat pola soal yang ada. Misalnya bila dia melihat pola listening part I, maka dia memikirkan bahwa part I ini adalah membahas tentang gambar-gambar. Karena itu, para siswa ditekankan pada pemahaman gambar. Jadi sebelumsoal dibacakan,siswa harus telah memahami makna gambar itu dulu. Dia harus tahu apakah pesan dan maksud gambar yang ada. Perhatikan hal-hal yang ada dalam gambar yang dapat memberikan kunci jawaban. Kemudian, siswa harus memahami pertanyaan yang sering muncul pada soal bagian satu ini. Apakah bentuk pertanyaan yang sering muncul dalam part I itu, maka kita harus tuliskan pula bentuk pertanyaan yang muncul. Kita catatkan kepada mereka bahwa pertanyaan pertanyaan yang sering muncul dalam pertanyaan ini, misalnya adalah: what can we conclude from the picture,what does the picture means, what is the best picture? Dan seterusnya. Tentu semua ini harus menjadi pola perhatian pada siswa. Lalu, dalam  gambar itu terdapat kata-kata, maka kata-kata itu adalah kata kunci dari pertannyaan soal nantinya. Maka fokuskanlah pikiran dan makna dari kata-kata yang tertulis itu. Kemudian, gambar  yang sering ditanya adalah gambar yang berukuran besar dan biasanya terlihat jelas bagian awal dari gambar latar lainnya. Karena itu siswa harus memperhatikan bentuk gambar itu dengan seksama. Lalu semua objek yang terdapat pada gambar itu kita reka-reka maksudnya, dan mengetahui bahasa Ingrisnya. Jadi dengan demikian pada soal listening bagian Part I ini, siswa harus memahami terlebih dahulu pola yang akan ditanyakan dalamsoal. Misalnya, apa yang kita lakukan terlebih dahulu untuk menjawab soal part I, tentu yang pertama adalah kita harus melihat terlebih dahulu pesan gambar tersebut. Kita harus mengerti gambar yang ada. Kemudian,kita pahami bentuk pertanyaan yang akan muncul berdasarkan gambar yang ada. Lalu setelah itu, waspada dengan bentuk pertanyaan wh question yang biasanya memberikan jawaban yang sangat berhubungan dengan jenis pertanyaan itu. Pertanyaan seperti ini sering muncul pada awal kata. Maka konsentrasikan pikiran kita kepada kata pertama yang diucapkan oleh pembicara. Misalnya bila kata pertama yang diucapkan oleh speaker adalah who yang artinya siapa, maka jawaban dari kata who adalah tentu orang, bisa berupa nama orang atau orang yang dituju. Bila pertanyan dimulai dengan kata where yang artinya dimana, maka jawaban  untu pertanyaan ini adalah tentang tempat atau place. Nah, untukjawaban tempat ini, maka kata depan yang mendahului keterangan tempat ini biasanya adalah in, on, dan at. Nah, maka perhatikanlah kata-kata seperti ini untukmenunjukkan keterangan tempat. Selanjutnya, bila pertanyaan dimulai dengan how yang artinya bagaimana atau how long berapa lama, maka untuk how maka jawabannya adalah bersifat kata sifat keadaan. Sedangkan untuk pertanyaan how long atau berapa lama? Maka jawaban kita harus berfokus kepada jumlah waktu. Misalnya how long have you stayed in Padang? Berapa lamakah kamu tinggal di padang? Maka jawaban yang tepat untuk pertanyaan untuk ini adalah jumlah waktu,misalnya two weeks, one month, dan seterusnya. Selanjutnya jika ada pertanyaan yang dimulai dengan pertanyaan kenapa (why) maka yang sering muncul jawaban sandingnya adalah karena (because). Kata ini sangat penting kita pahami agar kita bisa menjawabnya dengan benar.

Lalu, apakah ada cara lain untuk memahami listening Part II, saya pikir, siswa harus mengetahu format soal listening part II.misalnya saya harus menterjemahkan pola pertanyaan pada bagian II ini. Saya terjemahkan instruksi soal, kemudian bagaimana bentuk pertanyaan pada  soal ini. Lalu apa yang ditanyakan dan bagaimana pula bentuk soalini.memang sibuk juga. Contohnya adalah bahwa pada bagian dua ini pertanyaan yang sering muncul adalah bersifat ganda. Artinya dalam satu percakapan atau pernyataan terdapat dua pertanyaan seri. Artinya, pertanyaan pertama dan kedua saling berkaitan dengan teks atau dialog yang kita dengar.maka hal ini sangat menyulitkan siswa-siswa yang tidak memahami makna bahasa Inggris percakapan dengan baik. Lalu apa yang akan saya lakukan? Pertama kali, cara menjawab soal ini adalah siswa secepat mungkin harus menandai apa yangdiucapkan oleh pembicara dengan cara menandai jawaban yang positif atau jawaban yang meragukan. Memang semua usaha ini bisa saja tidak berjalan dengan baik, tetapi saya pikir ini ada manfaatnya. Lalu setelah itu,siswa harus memahami pertanyaan yang seringmuncul pada bagian dua ini. Siswa harus paham betul apa yang akanditanyakan oleh pembicara. Maka untuk pertanyaan bagian II harus diketahui dengan baik.

 

Ketiga.  Untuk   listening part III sangat berbeda dengan pola Part I dan II di atas. Pada bagian III ini option jawaba a, b, c, d, dan e dituliskan di atas kertas lembar soal. Sedangkan transkrip bacaan terdapat dalam kaset. Nah bagaimana kita menjawabnya? Caranya adalah sambil mendengar perhatian kita harus tertuju kepada pilihan a,b,c,d, dan e tersebut. Perhatikan kata-kata yang diucapkan oleh orang pertama dan kedua. Terus . aduh

 

Wwah ini memang memberatkansekali dengan target sepuluh halaman kertas yang harus saya tulis sampai jam sepuluh. Apakah saya bisa melakukan ini. Say apikir saya akan bisa. Saya bisa menciptakan atau memproduksi banyak kata dalam dua jam sebanyak sepuluh helai kertas. Lalu satu usaha saya adalah saya tidak perduli akan apa yangmuncul dalam pikiran saya. Apakah tulisan itu akan sembraut atau apakah tulisan saya ini bisa dibaca atau tidak. Yang terpenting adalah saya harus menjadi mesin pencetak kata sebanyak mungkin. Katakanlah say aini sebuah perusahaan yangmenciptakan banyak kata dalam waktu yang tidak begitu lama. Saya keluarkan dan say amuntahkan kata apa saja yang dapat say amuntahkan. Saya tahu persih bahwa kata orang kalau semua yang buruk sudah terbuah sudah dimuntahkan maka yang baik lah yang tinggal. Maka tulisan yang keluar setelah muntahan itu adalah kata yang baik-baik saja. Kata-kata kreatif yang bisa mencengangkan kita sendiri dalam menulis. Nah menurut saya apakah saya sudah selesai mengeluarkan kata muntahan yang tidak berguna itu? Saya pikir belum semua kata muntahan saya yang terbuang. Masih ada banyak kata kata mubazir dalam pikiran saya. Dan semua kata itu harus  saya keluarkan. Say a harus mengeluarkan unek-unek pikiran yang suka mengganggu saya dalam menulis. Saya  harus membiasakan diri say auntuk tetap menulis, menulis, menulis, dan menulis lagi. Say aharu smembiasakan diri saya untuk tetap duduk di depan komputer ini agar bisa menulis. Saya ingin melepaskan semua hidup saya ini dengan menulis sebagai satu impian saya yang saya ingin nyatakan. Impian ini harus saya jadikan nyata. Saya tidak perduli berapa lama saya akan mencapai impian saya ini. Saya tidak perduli apa tantangan yang akan saya hadapi. Tetapi dengan kekuatan yang ada pada diri saya, saya yakin saya akan bisa mencapai impian saya ini dengan cepat. Ya, seberapa cepat? Ya secepat saya ingin mewujudkannya. Saya mungkin bisa menyelesaikannya dalam tahun dua ribu delapan. Atau tiga tahun lagi dari sekarang. Saya akan menciptakan diri saya sebagai seorang penulis juniour yang dapat menciptakan kata-kata kreatif, sehingga banyak orang melihat pola pikiran saya yang kacau menjadi bagus. Tentu semua ini membutuhkan suatu latihan yang bagus dan suatu latihan yang terus menerus. Apakah saya bisa melakukan ini dengan cepat. Saya bisakah melakukan semua ini dengan benar. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melatih pikiran saya dan diri saya agar terbiasa dengan menulis. Mengapa demikian? Karena ini sudah saya jadikan impiah masa depan saya, jika ini tidak saya jadikan nyata, maka sia-sialah masa depan saya yang indah ini.

Waduh… saya tidak ada lagi rasanya untuk dituliskan. Pada hal target saya adalah menyelesaikan tulisan saya ini sebanyak sepuluh halaman. Dan itu belum bisa saya selesaikan. Saya baru saja sampai pada halaman empat. Lalu bagaimana akal saya? Apakah saya akan berhenti pada tulisan empat halaman ini saja? Atau apakah itu akan saya teruskan? Saya pikir saya harus memilih untuk meneruskan tulisan ini. Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk mencapai sepuluh halaman ini. Dan saya tahu dan sadar betul bahwa saya harus mengambil banyak waktu lagi untuk menulis. Dan ini memang diluar target menulis saya yang saya rencanakan hanya selama dua jam. Ternyata dalam waktu dua jam saya hanya bisa membuat kata atau menghasilkan kata-kata sebanyak empat halaman. Memang ini harus saya tingkatkan lagi. Saya harus mencoba lagi untuk mencapai lembaran ke sepuluh. Meskipun sekarang saya berada pada halaman empat,  namun dengan kegiatan menciptakan kata demi kata secara terus menerus saya akan yakin bahwa sebentar lagi saya akan menyelesaikan halaman empat ini.

Lalu apa usaha saya agar saya dapat menciptakan sampai halaman empat. Apa lagi yang akan saya tulis? Saya pikir saya harus kembali lagi kepada pokok pembahasan saya tadi tentang format soal ujian listening pada ujian nasional kemarin. Baru dua pembahasan yang dapat saya bicarakan. Sekarang saya harus ulangi sepintas tentang part II pada kegiatan listenig. Oh bukan, saya sudah sampai pada bagian III, yaitu

Posted by Armanto in 15:18:39 | Permalink | No Comments »

Kisahku (1)

Ini adalah sebuah kisah nyata tentang diriku selama bersekolah. Perasaian ini baru aku rasakan ketika mulai menginjakkan kakiku sekolah di smp. Waktu itu smp jauh dari tempat tinggalku. Sekolah ku bernama smp negeri 1 lubuk alung. Tempatnya di Sungai Abang, di samping puskesmas lubuk alung. Waktu itu, satu-satunya smp negeri yang ada adalah smp negeri itu.

Kehidupan orang tuaku tidaklah berkecupan. Meskipun ayahku adalah pegawai negeri, guru sd dikampungku, namun membiayai kami yang tujuh orang beradik kakak cukup berat bagi ayahku. Apalagi ibuku juga tidak bekerja. Ia adalah ibu rumah tangga.

Aku harus pergi ke sekolah berjalan kaki setiap hari. Jarak rumahku dengan sekolah adalah 5  kilo. Untuk tidak terlambat hadir di sekolah, aku harus cepat bangun pagi, langsung mandi, dan berpakaian. Makan seadanya. Biasanya aku bangun pagi jam enam paling lambat, dan aku sering bangun jam lima. Bangkit dari tempat tidur, aku langsung menyambar handukku yang tergantung di kain jemuran di dapurku, aku ambil sabun cap tombak (sabun pencuci kain) untuk sabun mandiku. Aku langsung pergi keluar rumah menuju kali yang berjarak dua ratus meter. Sesampai di kali, aku melihat sudah banyak teman-teman lain yang sedang mandi. Segera aku tanggalkan semua pakaian yang ada ditubuhku. Bugil. Aku langsung pergi ke lereng tebing kali itu. Langsung terjun katak ke dalam air. dan …

“biur..” suara air bercipratan ke sana kesini. Tubuhku langsung terasa menggigil kedinginan merasakan dinginnya air kali pagi hari. Aku lihat teman-teman lainpun bernasib sama. Pori-pori kulitnya membesar menahan hawa dingin. Gigi bergetar. Bibir sedikit hitam karena dingin. Tetapi itu semua tidak kami hiraukan. Karena sudah terbiasa mandi kayak gini setiap pagi.

Sabun cap tombak segera aku sambar, yang tidak jauh letaknya di lereng tebing tempat aku melompat tadi. Segera aku gosokkan sabun yang berwangi pohon serei itu ke tubuhku, lalu aku gosokkan pula ke rambutku sebagai ganti sampo.

Tak lama kemudian, aku sudah berendam kembali air. Membersihkan badan dan membersihkan jejak sabun di rambut.

Selesai bersabun, aku mengambil rumput banto untuk menggosok gigiku. Rumput ini segar-segar dan mudah menghilangkan sisa-sisa makanan pada gigi. Tapi, kadang-kadang rumput ini bisa juga menimbulkan pendarahan pada bibir atau gusiku karena daunnya yang tajam dan kesat.

Setelah lima menit mandi, aku langsung melompat ke tebing bersama teman-teman lain. Handuk aku sambar langsung aku balutkan ke badanku. Tidak sempat aku mengeringkan tubuhku. Aku langsung mengenakan pakaian kembali dan lari pulang.

Sesampai di rumah, aku langsung menukar pakaianku dengan pakaian sekolahku. Badanku kering otomatis saja selama dalam perjalanan dari kali ke rumah. Segera aku pakai kembali celana pendek sekolahku yang berwarna biru. Baju sekolahku juga ku sambar dari kain jemuran.

Segera sepatu ku pasang. Baunya sedikit keras karena bekas bau kakiku yang basah dan berjamur.

Sepatuku memang sudah usang. Ayahku membelikanku sepatu itu dua tahun yang lalu. Untuk tahun ini aku tidak membeli sepatu lagi. Kata ayahku, uang belum ada untuk beli sepatu. Pakai saja dulu sepatu yang lama. Begitu katanya.

Sepatuku sudah lusuh warnanya. Bagian depannya, pas tempat jemari kaki kananku, sudah robek. Menganga. Aku sudah menjahitnya dua bulan lalu. Tetapi sekarang, nganga itu terbuka kembali dan tidak bisa dijahit lagi. Jadi aku biarkan saja ia menganga. Untunglah nganganya tidak terlalu besar. Hanya satu jari kelingkingku bisa nongol di lubang menganga tadi. Tapak sepatu pun sudah tipis dan bolong. Kenapa tidak, sepatu ini sudah aku pakai setiap hari, itupun untuk berjalan kaki ke sekolah. Bila hari hujan, kaus kakiku jadi basah. Terkadang mengeluarkan bau yang tidak enak. Sehingga bila sampai disekolah, aku tidak berani duduk dekat wanita, maklum  aku minder karenanya. Sepatu sebelah kiri juga sama nasibnya. Tumitnya sudah bolong. Bila diinjak akan langsung menyentuh tanah. Tentu bila menginjak tanah bekas hujan semalam, tentu sisa-sisa air akan masuk ke tumitku. Akibatnya, kaus kaki kiriku bolong juga.

Tapi apa boleh buat, aku terpaksa juga memakai sepatu itu.

“teeengg..teeeng..teeeng.. bunyi lonceng  pada jam dindingku berdentang enam kali. Ini pertanda aku harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

“Ah.. dua menit lagi lah. Aku makan dulu” kataku. Segera aku buka tudung penutup makanan. Sisa nasi dan gulai semalam masih ada. Gulai ubi ketela pohon lengkap dengan daunnya masih ada tersisa. Nasi dinginpun masih tersisa untuk satu piring. Segera aku sikat makanan itu. Terkadang aku merasakan gulai ubi itu telah basi, tetapi itu semua tidak aku hiraukan. Yang penting perutku kenyang. Biar di sekolah tidak belanja. Begitu pikirku.

Siap makan, aku pamitan pada ibu dan ayahku. Saat itu, ayahku mengatakan: “Yung, nggak ada duit sekarang. Makan sajalah. Itu nasi ada di dapur.” Katanya.

“Aku sudah memakannya, yah.” Jawabku dengan sopan.

“Aku berangkat sekolah dulu Yah? Mak?” pamitku kepada mereka.

“Ya. Hati-hati di jalan. Rajin belajar di sekolah” kata ibuku menyela.

“Ya, mak.” Balasku.

Segera aku ambil tas sekolahku yang telah berisi buku-buku pelajaran di kamar tidurku. Aku segera buruan keluar. Langkah kakiku cepat. Sebentar saja aku sudah berada di jalan raya. Di jalan, aku sudah bertemu dengan banyak teman-teman yang sama-sama berangkat sekolah. Gerakan kaki kami sangat cepat dan lebar. Tetapi aku bergerak paling cepat. Mungkin karena sudah terbiasa. Sehingga teman-teman yang sama berjalan kaki, tertinggal jauh di belakangku.

Keringat pagi sudah menyembul di pori-pori tubuhku. Tetapi, itu tidak aku perdulikan. Aku tetap berjalan cepat menuju sekolah. Aku takut kalau nanti terlambat sampai di sekolah. Kira-kira dua kilo perjalanan dari rumahku, aku sudah sampai di desa Singguling. Tepatnya dekat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) aku jalan belok kanan, menuju jalan pintas, menapaki tebing kali yang rumputnya masih berembun. Sepatuku kembali basah oleh embun rumput itu. Sedikit aku rasakan rasa dingin di telapak kedua belah sepatuku yang bolong. Lepas berjalan di atas tebing kali itu, perjalanku dilanjutkan masuk kebun pisang orang. jalan setapak ini memang sering dilalui oleh banyak anak sekolah, sehingga jalan itu kelihatan bersih dan terang.

            Jam tujuh pagi, aku sudah sampai di Sungai Abang, tempat smp ku berada. Aku harus melintasi jalan raya untuk sampai di sana. Di pintu gerbang sekolah, aku langsung masuk ke dalam sekolah, berlari-lari kecil ke kelasku I.G.

            Bangunan sekolahku berbentuk huruf L. dan kelasku berada di sudut huruf L tersebut. Di sebelah lokalku adalah wc. Yaitu tempat buang hajat semua siswa-siswi. Kelas ku sedikit berbau pesing, apalagi kalau siang harinya, jam 12 siang.

            Jam tujuh tiga puluh. Aku mulai belajar. Biasanya kami berbaris di depan kelas terlebih dahulu. Kemudian dikomendai oleh ketua kelas. Setelah semua siswa hadir, kami dipersilakan masuk kelas.

            Pak Syafrizal, guru matematikaku, menagih tugas yang diberikannya. Aku mengeluarkan buku latihan matematikaku. Syukurlah semua tugas saya selesaikan. Pak Syafrizal adalah guru yang paling killer di kelasku. Ia sering bergelar pak Tengkorak, karena postur tubuhnya yang kurus jangkung seperti tengkorak hidup. Bagi dia, persoalan kecil bisa jadi besar. Salah sedikit menjawab soal, langsung mendapat komentar sinis. Sadisnya, banyak buku-buku latihan teman-temanku yang dirobeknya. Persoalannya Karena mereka ketahuan saling mencontek mengerjakan PR di sekolah.

            Ruang kelasku hening bagai tinggal di kuburan. Sunyi. Tidak ada suara. Kecuali suara guru killer ini. Sebuah pena teman di sampingku jatuh dari bangku belajarnya.

“Klak” pena itu jatuh ke lantai langsung berderai. Namun ia tidak berani mengambil pena itu apalagi untuk menolehnya. Semua siswa tidak berani menoleh ke kiri dan kekanan saat bapak itu menjelaskan pelajarannya di papan tulis. Kami semua takut bicara karena kapur tulis yang ada ditangan bapak itu akan melayang otomatis ke sumber suara. Yah. Kelas seolah-olah menahan nafas agar tidak mendesah.

“teng. Teng!” bunyi lonceng terdengar dipukul dua kali. Itu artinya ada pergantian jam pelajaran. Sebelumnya, Pak Syafrizal sudah memberi kami PR matematika yang banyak untuk diselesaikan.

Setelah bapak itu keluar, jauh dari kelas kami. Semua kelas merasa lega. Haahhh… legaaaa. Keras kembali bersuara. Suasana kembali menyenangkan kembali apalagi yang masuk adalah ibu aswita diana, guru kesenian. Kegiatan belajar ini berlangsung hingga longceng istirahat berdentang tiga kali.

Semua siswa berhamburan keluar kelas. Mereka diluar sudah saling tunggu-menunggu tampaknya. Siswa-siswi perempuan saling berkelompok dan pergi ke warung etek mar yang berada di belakang sekolah. Begitu pula dengan siswa-siswa laki-laki. Aku sendiri sih maunya begitu juga. Pergi ke belakang sekolah. Duduk di warung. Minta satu piring lontong pecal. Dan minum satu gelas air dingin. Tetapi itu semua hanya dalam hayalanku saja. Karena aku tidak punya duit sama sekali.

“Ar, ke warung yuk! Jajan!” Kata Almandes, salah seorang temanku.

“Ma kasih Al, saya masih kenyang. Tadi sudah makan. Kamu ajalah yang belanja!”

“Nggak baik gitu Ar, kita kan teman. Duit ku ada nih untuk belanja kita berdua.”

Aku merasakan adanya keikhlasan hati dari temanku ini. Tetapi aku merasa malu dibelanjakan oleh temanku. Kalau mau bilang aku tidak punya uang. Rasanya juga malu. Tetapi kalau ajakannya ditolak, tidak enak juga.

“Tapi Al..?” kataku agak ragu.

“Ah. Nggak ada tapi-tapinya Ar. Pokoknya kamu ikut aku yuk!” katanya sambil menghela tangan kananku ke warung.

Cintaku terpendam

Sebenarnya sebagai manusia yang baru menanjak remaja, aku sudah bisa merasakan gejala-gejala suka pada lawan jenis. Tetapi, perasaan ini tetap aku pendam dan aku diamkan. Aku takut sekali kalau si dia mengetahui perasaanku. Bahkan rasa takutku akan bertambah menjadi jadi, bila ia menerima cintaku. Dengan apa aku bisa membahagiakan dia? Aku tidak punya uang sama sekali. Bagaimana kalau dia mengajakku makan lontong ke warung Etek Mar? bagaimana kalau ia mengajakku bareng pulang naik bendi atau mobil? Terus, apakah aku tidak malu kalau dia yang membayarkan semua itu? Ah.. mau dimana diletakkan kepalaku? Karenanya, mengingat semua itu, aku tidak berani memperlihatkan sama sekali isi hatiku kepada dia.

Pernah suatu kali aku hampir kecolongan. Gadis itu, Neli namanya. Ku pandangi dirinya dari kejauhan dan sembunyi-sembunyi. Kubayangkan betapa bahagianya hatiku bila aku bisa berteman bersamanya. Tetapi, tanpa sadar, gadis itu kebetulan juga menatapku. Dua mata beradu pandang. Aku langsung terkejut dan terkesima. Begitu pula dia tampaknya. Segera aku buang pandanganku ke tempat lain. Pura-pura, aku memperhatikan sesuatu yang penting. Dan, sudut mataku masih bisa melihat gadis itu masih memperhatikan aku. Aku merasa risih dan peluh-peluh kecil mulai keluar. Aku mulai berkeringat. Aku takut kalau dia tahu aku menyukainya. dan, semenjak itu, aku tidak mau lagi menatapnya, walaupun sembunyi-sembunyi. Aku hanya menyimpan bayangannya dalam ingatanku.

Rasa minder meraja lela

Tidak ada uang dan keadaan pakaianku yang serba usang membuat aku cepat minder kepada teman-teman sekelas. Oh ya, minder itu maksudnya perasaan rendah diri karena ada rasa kekurangan pada diri kita. Pernah suatu hari, aku diundang oleh seorang temanku untuk menghadiri pesta pernikahan kakak perempuannya. Pestanya hari Sabtu.

Kami semua janjian untuk datang ke pestanya pada hari Minggu siang, siap shalat Zuhur.

Keesokan harinya, aku berangkat ke tempat pesta temanku di Kabun Kopi, dekat Pasar Lubuk Alung. Syukurah aku punya uang tabunganku. Aku pecahkan uang tabunganku itu. Jumlahnya Rp 5.000. aku tidak mengambil semuanya. Aku ambil hanya Rp 2.000 dan selebihnya aku simpan kembali. Aku menyetop mobil angkutan di depan rumahku. Mobil itu sudah reot dan berjalan lambat. Isinya juga padat dan berdesak-desakan. Maklum mobil yang ada lewat tiap hari hanya ada dua buah. Itupun, bunyi mesinnya sudah melenguh. Bahkan hidupnya sering didorong terlebih dahulu.

Jam sebelas, saya sudah sampai di pasar Lubuk Alung. Saya berdiri sebentar setelah keluar dari mobil peot itu. Aku berdiri saja sambil berpikir. Mau kemana lagi ya? Janji sama teman jam satu siang, siap zuhur. Apa yang akan aku lakukan. Sekarang baru jam sebelas, pikirku. Aku pandangi pakaianku yang berlengan pendek lusuh, petak-petak hitam pudar. Sedikit masih terasa bau kapur barus melekat di bajuku. Bajuku bersih, tapi pudar. Kupandangi lagi celana panjangku. Celana ini sedikit agak baru. Aku pinjam dari familiku tetangga sebelah. “ wah lumayan juga rasanya memakai jean ini. Ujung celana jean ini mengerucut ke ujung. Aku akan bisa memasukkan kakiku ke celanaku hanya melalui bantuan plastik. Aku harus membungkus dulu kakiku dengan plastik, kemudian sorongkan ke celana jean itu. Dengan sedikit tenaga ektra maka kaki bisa lewat ujung celana sempit itu. Pada waktu itu, ujung celana sempit sedang trend

dipakai oleh anak-anak muda seusia ku. Sedikit aku merasa pede dengan celana jean pinjaman ini.

Kembali… kuteruskan memperhatikan sepatuku. Dan..? ah… aku kembali merasa tidak pede lagi. Sebagai anak berusia empat belas tahun, rasa gengsiku cukup tinggi. Aku merasa malu kalau-kalau pandangan teman-temanku mengarah ke sepatuku yang sudah menganga ini dengan telapaknya yang blong. Ah apa yang harus aku lakukan.

Seketika aku merogoh uangku yang ada saku celana depan. Masih ada sisanya Rp. 1300. Aku terniat untuk memperbaiku dulu ke tukang sepatu. Aku akan menjahitnya dulu dan menukar telapak sepatu yang bolong ini. Tetapi apakah uangku ini cukup untuk itu? Terus kalaupun cukup, gimana caranya aku pulang nanti? Apakah aku jalan kaki? Tujuh kilo meter lo? Ah, biarlah yang penting aku jangan sampai minder bangat di depan teman-temanku nanti.

Segera aku terlepas dari lamunan ini. Segera aku langkahkan kakiku menyeberangi jalan raya menuju tukang sepatu. Syukurlah sesampai di sana, tukang sepatu itu sudah ada di sana.

“Pagi Uda? Tanyaku kepada tukang sepatu itu.

“Pagi. Apa khabar? Ada yang perlu dibantu?” tanyanya kepada ku.

“Ini uda. Aku mau menjahit sepatuku ini.” Segera ku arahkan mataku ke sepatu yang sedang saya kenakan.

“Terus, juga menukar telapak sepatu ini” sambungku lagi.

Tanpa dimintanya, aku segera membuka sepatuku. Saat ku buka, bau sepatuku kembali “mempesona” ruangan. Tengik dan busuk. Kaus kakiku masih lembab karena tidak kering di jemur semalam.

Tukang sepatu itu juga menahan nafasnya sebentar.

“Eh.. ini aromanya agar lain, ya? Katanya sambil menyindirku.

Aku yang kena sindir merasa malu.

“i..i..iya uda. Bau khusus dari surga” kataku bergurau

“Ha. Ha. Ha..”Tukang sepatu itu tertawa cengengesan. Saya akhirnya juga ikut tertawa ngakak.

“Yah. Beginilah nasibku uda. Hanya ini harta karunku. Sepatu comberan. He.. he.?”

“Nggak apa-apa. Yang penting kita harus kerja keras untuk menjadi yang lebih baik” katanya. Kata-kata uda itu membangkitkan suatu hasrat bekerja keras pada pribadiku.

“Gini uda. Sebelum diperbaiki. Saya mo nanya dulu. Berapa upah menjahitnya? Dan berapa beli telapak sepatu aku ini? Tanyaku. Aku takut, jangan-jangan uangku tidak cukup untuk membayar semua itu.

“Biayanya seribu seratus, dik?” kata uda tukang sepatu itu.

(bersambung)

 

 

 

 

Posted by Armanto in 15:09:44 | Permalink | No Comments »