“biur..” suara air bercipratan ke sana kesini. Tubuhku langsung terasa menggigil kedinginan merasakan dinginnya air kali pagi hari. Aku lihat teman-teman lainpun bernasib sama. Pori-pori kulitnya membesar menahan hawa dingin. Gigi bergetar. Bibir sedikit hitam karena dingin. Tetapi itu semua tidak kami hiraukan. Karena sudah terbiasa mandi kayak gini setiap pagi.
Sabun cap tombak segera aku sambar, yang tidak jauh letaknya di lereng tebing tempat aku melompat tadi. Segera aku gosokkan sabun yang berwangi pohon serei itu ke tubuhku, lalu aku gosokkan pula ke rambutku sebagai ganti sampo.
Tak lama kemudian, aku sudah berendam kembali air. Membersihkan badan dan membersihkan jejak sabun di rambut.
Selesai bersabun, aku mengambil rumput banto untuk menggosok gigiku. Rumput ini segar-segar dan mudah menghilangkan sisa-sisa makanan pada gigi. Tapi, kadang-kadang rumput ini bisa juga menimbulkan pendarahan pada bibir atau gusiku karena daunnya yang tajam dan kesat.
Setelah lima menit mandi, aku langsung melompat ke tebing bersama teman-teman lain. Handuk aku sambar langsung aku balutkan ke badanku. Tidak sempat aku mengeringkan tubuhku. Aku langsung mengenakan pakaian kembali dan lari pulang.
Sesampai di rumah, aku langsung menukar pakaianku dengan pakaian sekolahku. Badanku kering otomatis saja selama dalam perjalanan dari kali ke rumah. Segera aku pakai kembali celana pendek sekolahku yang berwarna biru. Baju sekolahku juga ku sambar dari kain jemuran.
Segera sepatu ku pasang. Baunya sedikit keras karena bekas bau kakiku yang basah dan berjamur.
Sepatuku memang sudah usang. Ayahku membelikanku sepatu itu dua tahun yang lalu. Untuk tahun ini aku tidak membeli sepatu lagi. Kata ayahku, uang belum ada untuk beli sepatu. Pakai saja dulu sepatu yang lama. Begitu katanya.
Sepatuku sudah lusuh warnanya. Bagian depannya, pas tempat jemari kaki kananku, sudah robek. Menganga. Aku sudah menjahitnya dua bulan lalu. Tetapi sekarang, nganga itu terbuka kembali dan tidak bisa dijahit lagi. Jadi aku biarkan saja ia menganga. Untunglah nganganya tidak terlalu besar. Hanya satu jari kelingkingku bisa nongol di lubang menganga tadi. Tapak sepatu pun sudah tipis dan bolong. Kenapa tidak, sepatu ini sudah aku pakai setiap hari, itupun untuk berjalan kaki ke sekolah. Bila hari hujan, kaus kakiku jadi basah. Terkadang mengeluarkan bau yang tidak enak. Sehingga bila sampai disekolah, aku tidak berani duduk dekat wanita, maklum aku minder karenanya. Sepatu sebelah kiri juga sama nasibnya. Tumitnya sudah bolong. Bila diinjak akan langsung menyentuh tanah. Tentu bila menginjak tanah bekas hujan semalam, tentu sisa-sisa air akan masuk ke tumitku. Akibatnya, kaus kaki kiriku bolong juga.
Tapi apa boleh buat, aku terpaksa juga memakai sepatu itu.
“teeengg..teeeng..teeeng.. bunyi lonceng pada jam dindingku berdentang enam kali. Ini pertanda aku harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
“Ah.. dua menit lagi lah. Aku makan dulu” kataku. Segera aku buka tudung penutup makanan. Sisa nasi dan gulai semalam masih ada. Gulai ubi ketela pohon lengkap dengan daunnya masih ada tersisa. Nasi dinginpun masih tersisa untuk satu piring. Segera aku sikat makanan itu. Terkadang aku merasakan gulai ubi itu telah basi, tetapi itu semua tidak aku hiraukan. Yang penting perutku kenyang. Biar di sekolah tidak belanja. Begitu pikirku.
Siap makan, aku pamitan pada ibu dan ayahku. Saat itu, ayahku mengatakan: “Yung, nggak ada duit sekarang. Makan sajalah. Itu nasi ada di dapur.” Katanya.
“Aku sudah memakannya, yah.” Jawabku dengan sopan.
“Aku berangkat sekolah dulu Yah? Mak?” pamitku kepada mereka.
“Ya. Hati-hati di jalan. Rajin belajar di sekolah” kata ibuku menyela.
“Ya, mak.” Balasku.
Segera aku ambil tas sekolahku yang telah berisi buku-buku pelajaran di kamar tidurku. Aku segera buruan keluar. Langkah kakiku cepat. Sebentar saja aku sudah berada di jalan raya. Di jalan, aku sudah bertemu dengan banyak teman-teman yang sama-sama berangkat sekolah. Gerakan kaki kami sangat cepat dan lebar. Tetapi aku bergerak paling cepat. Mungkin karena sudah terbiasa. Sehingga teman-teman yang sama berjalan kaki, tertinggal jauh di belakangku.
Keringat pagi sudah menyembul di pori-pori tubuhku. Tetapi, itu tidak aku perdulikan. Aku tetap berjalan cepat menuju sekolah. Aku takut kalau nanti terlambat sampai di sekolah. Kira-kira dua kilo perjalanan dari rumahku, aku sudah sampai di desa Singguling. Tepatnya dekat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) aku jalan belok kanan, menuju jalan pintas, menapaki tebing kali yang rumputnya masih berembun. Sepatuku kembali basah oleh embun rumput itu. Sedikit aku rasakan rasa dingin di telapak kedua belah sepatuku yang bolong. Lepas berjalan di atas tebing kali itu, perjalanku dilanjutkan masuk kebun pisang orang. jalan setapak ini memang sering dilalui oleh banyak anak sekolah, sehingga jalan itu kelihatan bersih dan terang.
Jam tujuh pagi, aku sudah sampai di Sungai Abang, tempat smp ku berada. Aku harus melintasi jalan raya untuk sampai di sana. Di pintu gerbang sekolah, aku langsung masuk ke dalam sekolah, berlari-lari kecil ke kelasku I.G.
Bangunan sekolahku berbentuk huruf L. dan kelasku berada di sudut huruf L tersebut. Di sebelah lokalku adalah wc. Yaitu tempat buang hajat semua siswa-siswi. Kelas ku sedikit berbau pesing, apalagi kalau siang harinya, jam 12 siang.
Jam tujuh tiga puluh. Aku mulai belajar. Biasanya kami berbaris di depan kelas terlebih dahulu. Kemudian dikomendai oleh ketua kelas. Setelah semua siswa hadir, kami dipersilakan masuk kelas.
Pak Syafrizal, guru matematikaku, menagih tugas yang diberikannya. Aku mengeluarkan buku latihan matematikaku. Syukurlah semua tugas saya selesaikan. Pak Syafrizal adalah guru yang paling killer di kelasku. Ia sering bergelar pak Tengkorak, karena postur tubuhnya yang kurus jangkung seperti tengkorak hidup. Bagi dia, persoalan kecil bisa jadi besar. Salah sedikit menjawab soal, langsung mendapat komentar sinis. Sadisnya, banyak buku-buku latihan teman-temanku yang dirobeknya. Persoalannya Karena mereka ketahuan saling mencontek mengerjakan PR di sekolah.
Ruang kelasku hening bagai tinggal di kuburan. Sunyi. Tidak ada suara. Kecuali suara guru killer ini. Sebuah pena teman di sampingku jatuh dari bangku belajarnya.
“Klak” pena itu jatuh ke lantai langsung berderai. Namun ia tidak berani mengambil pena itu apalagi untuk menolehnya. Semua siswa tidak berani menoleh ke kiri dan kekanan saat bapak itu menjelaskan pelajarannya di papan tulis. Kami semua takut bicara karena kapur tulis yang ada ditangan bapak itu akan melayang otomatis ke sumber suara. Yah. Kelas seolah-olah menahan nafas agar tidak mendesah.
“teng. Teng!” bunyi lonceng terdengar dipukul dua kali. Itu artinya ada pergantian jam pelajaran. Sebelumnya, Pak Syafrizal sudah memberi kami PR matematika yang banyak untuk diselesaikan.
Setelah bapak itu keluar, jauh dari kelas kami. Semua kelas merasa lega. Haahhh… legaaaa. Keras kembali bersuara. Suasana kembali menyenangkan kembali apalagi yang masuk adalah ibu aswita diana, guru kesenian. Kegiatan belajar ini berlangsung hingga longceng istirahat berdentang tiga kali.
Semua siswa berhamburan keluar kelas. Mereka diluar sudah saling tunggu-menunggu tampaknya. Siswa-siswi perempuan saling berkelompok dan pergi ke warung etek mar yang berada di belakang sekolah. Begitu pula dengan siswa-siswa laki-laki. Aku sendiri sih maunya begitu juga. Pergi ke belakang sekolah. Duduk di warung. Minta satu piring lontong pecal. Dan minum satu gelas air dingin. Tetapi itu semua hanya dalam hayalanku saja. Karena aku tidak punya duit sama sekali.
“Ar, ke warung yuk! Jajan!” Kata Almandes, salah seorang temanku.
“Ma kasih Al, saya masih kenyang. Tadi sudah makan. Kamu ajalah yang belanja!”
“Nggak baik gitu Ar, kita kan teman. Duit ku ada nih untuk belanja kita berdua.”
Aku merasakan adanya keikhlasan hati dari temanku ini. Tetapi aku merasa malu dibelanjakan oleh temanku. Kalau mau bilang aku tidak punya uang. Rasanya juga malu. Tetapi kalau ajakannya ditolak, tidak enak juga.
“Tapi Al..?” kataku agak ragu.
“Ah. Nggak ada tapi-tapinya Ar. Pokoknya kamu ikut aku yuk!” katanya sambil menghela tangan kananku ke warung.
Cintaku terpendam
Sebenarnya sebagai manusia yang baru menanjak remaja, aku sudah bisa merasakan gejala-gejala suka pada lawan jenis. Tetapi, perasaan ini tetap aku pendam dan aku diamkan. Aku takut sekali kalau si dia mengetahui perasaanku. Bahkan rasa takutku akan bertambah menjadi jadi, bila ia menerima cintaku. Dengan apa aku bisa membahagiakan dia? Aku tidak punya uang sama sekali. Bagaimana kalau dia mengajakku makan lontong ke warung Etek Mar? bagaimana kalau ia mengajakku bareng pulang naik bendi atau mobil? Terus, apakah aku tidak malu kalau dia yang membayarkan semua itu? Ah.. mau dimana diletakkan kepalaku? Karenanya, mengingat semua itu, aku tidak berani memperlihatkan sama sekali isi hatiku kepada dia.
Pernah suatu kali aku hampir kecolongan. Gadis itu, Neli namanya. Ku pandangi dirinya dari kejauhan dan sembunyi-sembunyi. Kubayangkan betapa bahagianya hatiku bila aku bisa berteman bersamanya. Tetapi, tanpa sadar, gadis itu kebetulan juga menatapku. Dua mata beradu pandang. Aku langsung terkejut dan terkesima. Begitu pula dia tampaknya. Segera aku buang pandanganku ke tempat lain. Pura-pura, aku memperhatikan sesuatu yang penting. Dan, sudut mataku masih bisa melihat gadis itu masih memperhatikan aku. Aku merasa risih dan peluh-peluh kecil mulai keluar. Aku mulai berkeringat. Aku takut kalau dia tahu aku menyukainya. dan, semenjak itu, aku tidak mau lagi menatapnya, walaupun sembunyi-sembunyi. Aku hanya menyimpan bayangannya dalam ingatanku.
Rasa minder meraja lela
Tidak ada uang dan keadaan pakaianku yang serba usang membuat aku cepat minder kepada teman-teman sekelas. Oh ya, minder itu maksudnya perasaan rendah diri karena ada rasa kekurangan pada diri kita. Pernah suatu hari, aku diundang oleh seorang temanku untuk menghadiri pesta pernikahan kakak perempuannya. Pestanya hari Sabtu.
Kami semua janjian untuk datang ke pestanya pada hari Minggu siang, siap shalat Zuhur.
Keesokan harinya, aku berangkat ke tempat pesta temanku di Kabun Kopi, dekat Pasar Lubuk Alung. Syukurah aku punya uang tabunganku. Aku pecahkan uang tabunganku itu. Jumlahnya Rp 5.000. aku tidak mengambil semuanya. Aku ambil hanya Rp 2.000 dan selebihnya aku simpan kembali. Aku menyetop mobil angkutan di depan rumahku. Mobil itu sudah reot dan berjalan lambat. Isinya juga padat dan berdesak-desakan. Maklum mobil yang ada lewat tiap hari hanya ada dua buah. Itupun, bunyi mesinnya sudah melenguh. Bahkan hidupnya sering didorong terlebih dahulu.
Jam sebelas, saya sudah sampai di pasar Lubuk Alung. Saya berdiri sebentar setelah keluar dari mobil peot itu. Aku berdiri saja sambil berpikir. Mau kemana lagi ya? Janji sama teman jam satu siang, siap zuhur. Apa yang akan aku lakukan. Sekarang baru jam sebelas, pikirku. Aku pandangi pakaianku yang berlengan pendek lusuh, petak-petak hitam pudar. Sedikit masih terasa bau kapur barus melekat di bajuku. Bajuku bersih, tapi pudar. Kupandangi lagi celana panjangku. Celana ini sedikit agak baru. Aku pinjam dari familiku tetangga sebelah. “ wah lumayan juga rasanya memakai jean ini. Ujung celana jean ini mengerucut ke ujung. Aku akan bisa memasukkan kakiku ke celanaku hanya melalui bantuan plastik. Aku harus membungkus dulu kakiku dengan plastik, kemudian sorongkan ke celana jean itu. Dengan sedikit tenaga ektra maka kaki bisa lewat ujung celana sempit itu. Pada waktu itu, ujung celana sempit sedang trend
dipakai oleh anak-anak muda seusia ku. Sedikit aku merasa pede dengan celana jean pinjaman ini.
Kembali… kuteruskan memperhatikan sepatuku. Dan..? ah… aku kembali merasa tidak pede lagi. Sebagai anak berusia empat belas tahun, rasa gengsiku cukup tinggi. Aku merasa malu kalau-kalau pandangan teman-temanku mengarah ke sepatuku yang sudah menganga ini dengan telapaknya yang blong. Ah apa yang harus aku lakukan.
Seketika aku merogoh uangku yang ada saku celana depan. Masih ada sisanya Rp. 1300. Aku terniat untuk memperbaiku dulu ke tukang sepatu. Aku akan menjahitnya dulu dan menukar telapak sepatu yang bolong ini. Tetapi apakah uangku ini cukup untuk itu? Terus kalaupun cukup, gimana caranya aku pulang nanti? Apakah aku jalan kaki? Tujuh kilo meter lo? Ah, biarlah yang penting aku jangan sampai minder bangat di depan teman-temanku nanti.
Segera aku terlepas dari lamunan ini. Segera aku langkahkan kakiku menyeberangi jalan raya menuju tukang sepatu. Syukurlah sesampai di sana, tukang sepatu itu sudah ada di sana.
“Pagi Uda? Tanyaku kepada tukang sepatu itu.
“Pagi. Apa khabar? Ada yang perlu dibantu?” tanyanya kepada ku.
“Ini uda. Aku mau menjahit sepatuku ini.” Segera ku arahkan mataku ke sepatu yang sedang saya kenakan.
“Terus, juga menukar telapak sepatu ini” sambungku lagi.
Tanpa dimintanya, aku segera membuka sepatuku. Saat ku buka, bau sepatuku kembali “mempesona” ruangan. Tengik dan busuk. Kaus kakiku masih lembab karena tidak kering di jemur semalam.
Tukang sepatu itu juga menahan nafasnya sebentar.
“Eh.. ini aromanya agar lain, ya? Katanya sambil menyindirku.
Aku yang kena sindir merasa malu.
“i..i..iya uda. Bau khusus dari surga” kataku bergurau
“Ha. Ha. Ha..”Tukang sepatu itu tertawa cengengesan. Saya akhirnya juga ikut tertawa ngakak.
“Yah. Beginilah nasibku uda. Hanya ini harta karunku. Sepatu comberan. He.. he.?”
“Nggak apa-apa. Yang penting kita harus kerja keras untuk menjadi yang lebih baik” katanya. Kata-kata uda itu membangkitkan suatu hasrat bekerja keras pada pribadiku.
“Gini uda. Sebelum diperbaiki. Saya mo nanya dulu. Berapa upah menjahitnya? Dan berapa beli telapak sepatu aku ini? Tanyaku. Aku takut, jangan-jangan uangku tidak cukup untuk membayar semua itu.
“Biayanya seribu seratus, dik?” kata uda tukang sepatu itu.
(bersambung)